Summer Day With You

Yuko bangun dari tidurnya yang indah. Gadis bersurai merah ini kemudian bangun dari tempat tidurnya, dan pergi menuju kamar mandi. Membersihkan badan indahnya yang telah capai dipakai tidur semalaman. Selesai mandi, Yuko pun berdiri di depan lemari bajunya.

Masih segar di ingatannya, kalau hari ini Michio, kekasih Yuko, akan mengajak dirinya pergi ke pantai. Lagipula hari ini hari Sabtu, so tidak masalah bukan? Yuko juga butuh refreshing, sama seperti remaja yang lain. Dibukanya lemari putih itu, dan Yuko mengambil celana pendek jeans dan kemeja putih favoritnya. Tak lupa juga ia mengambil switsuit warna merah jambu. Setelah memakai semuanya, dirinya mengambil kacamata hitam dan topi rajut yang ada diatas meja belajarnya, kemudian mengambil tas cokelat favoritnya serta memasukkan gadgetnya, dan turun ke bawah meninggalkan kamar mungilnya.

Sesampai di bawah, Yuko disambut hangat oleh ayah dan ibunya yang sedang sarapan, bersama dengan Michio.

“Michio sudah datang rupanya,” kata Yuko dalam hati.

“Hai sayang, ayo duduk disini! Michio sudah lama menunggumu!” kata ibu pada Yuko, membuat Yuko malu. Seharusnya dia tidak membuat Michio menunggu. Ia pun duduk di sebelah Michio.

“Michio-chan, maafkan aku ya, membuatmu menunggu lama,” ucap Yuko sembari mengambil roti tawar untuk sarapan. Sang ibu menuangkan susu ke dalam gelas Yuko, yang kemudian mendapat ucapan terima kasih dari sang anak.

“Tidak apa-apa, aku baru saja tiba,”

“Kau berbohong ya? Itu piring dan gelas yang ada di depan mu sudah kosong, tinggal remah-remah roti dan bekas susu saja,” ucap Yuko yang membuat pipi Michio memerah, dan terdengar tawa milik ayah dan ibu Yuko.

“Yuko sayang, habiskan saja dulu makanmu. Biar kau bisa cepat berangkat. Kau sangat ingin ke pantai bukan?” kata ayah Yuko kemudian.

“Iya, itu benar sayang, kasihan Michio sudah menunggumu,” kata ibu Yuko kemudian, yang membuat Yuko menghabiskan sarapannya.

Selesai sarapan, Yuko dan Michio pun pamit dan pergi ke pantai. Selama di perjalanan, seperti pasangan-pasangan lainnya, mereka menyetel lagu country, dan menyanyikan lagu-lagu yang diputar bersama-sama. Tak terasa satu jam telah berlalu, mereka pun tiba di pantai indah itu, Pantai Momochi. Mereka keluar dari dalam mobil, dan kemudian berkeliling di pantai tersebut, sembari mengabadikan momen mereka berdua.

Kesibukan kuliah membuat mereka tidak bisa bertemu setiap saat. Tidak ada waktu kosong sama sekali. Di kampus pun mereka hanya bertemu sesekali. Berada di jurusan yang berbeda, membuat mereka susah untuk bertemu. Untung saja teknologi semakin canggih, mereka bisa berkomunikasi melalui dunia maya. Sekalinya ada momen kosong seperti ini, tidak akan mereka sia-siakan.

“Michio, aku capai. Bisakah kita duduk?” ucap Yuko kemudian.

“Okelah, ayo naik di punggungku,” ucap Michio, berjongkok di depan Yuko.

“Apa yang kau lakukan sih? Kau membuatku malu saja,” ucap Yuko yang menyadari padangan orang di sekitarnya.

“Mereka tidak akan peduli, lagipula kita ini couple. Jadi cepat!”

Yuko pun menyerah dan naik ke punggung Michio. Setelah menemukan tempat duduk, Michio pun menurunkan Yuko. Dan lari meninggalkan Yuko. Yuko yang kebingungan hanya duduk menunggu disana, hingga Michio datang membawa sekaleng minuman berkarbonasi. Yuko yang merasa haus pun membuka kaleng tersebut, dan langsung meneguknya. Michio yang melihat hal tersebut pun tertawa.

“Hey, kau haus sekali ya?” tanya Michio, sembari duduk di sebelah Yuko dan menyisir surai indah miliknya dengan jari-jarinya.

“Iya, kau tahu kan kalau aku haus itu bagaimana,” sembari menghabiskan minuman tersebut, dan meletakkannya disamping tasnya.

“Hmmm, iya. Jadi, apakah hari ini kau ingin berenang?”

“Iya, aku sudah lama tidak bermain di pantai. Apalagi bersamamu,”

“Ya sudah, aku mau beli sunblock dulu ya, kau pasti lupa,” yang mendapat anggukan dari Yuko.

Sepeninggalan Michio, Yuko melepas kemeja dan celana pendeknya, dan menampilkan Yuko yang mengenakan swimsuit, dengan berbalut loose shirt. Untung saja Yuko tidak lupa membawa loose shirt. Dia merasa risih jika harus dilihat orang mengenakan swimsuit two pieces itu. Michio yang datang pun terpesona akan badan indah sang kekasih, namun pikiran dewasanya seketika juga dihapusnya oleh Michio. Michio tidak ingin dianggap sebagai pria mata keranjang, apalagi oleh kekasihnya sendiri.

Michio pun memberikan sunblock yang baru saja dibelinya pada Yuko, kemudian melepaskan atributnya, dan meninggal celana pendeknya, untuk bermain di pantai bersama Yuko. Setelah selesai, ia mengambil sunblock yang ada di tangan Yuko. Mereka pun bermain di pantai indah itu. Tidak seperti kebanyakan couple, mereka memulai hari mereka dengan membuat istana pasir di pinggir pantai, baru kemudian mereka berenang di pantai.

Setelah berenang sekitar lima belas menit, Yuko pun melancarkan serangan mendadak pada Michio. Yuko menyiramkan air pantai pada Michio, yang membuat Michio kaget, dan kemudian membalas perbuatan gadisnya itu. Yuko yang berusaha mehindar, membuat mereka harus berlari-larian di dalam air. Michio yang merasa akan kalah pun, mengeluarkan siasatnya. Michio berenang di dalam air, membuat Yuko berbalik karena merasa tidak ada yang mengejarnya. Tidak mendapati Michio di belakangnya, ia pun panik.

Namun, tiba-tiba Michio hadir di depannya sembari menunjukkan killer smilenya, membuat Yuko mematung. Michio pun merangkul pinggul Yuko, dan menempelkan bibirnya pada bibir manis Yuko. Yuko kaget, karena itu adalah first kiss-nya, yang saat ini telah diambil oleh Michio. Yuko pun mendorong Michio, dan membuat dirinya terjatuh, jika saja tangannya tidak ditangkap oleh Michio.

“Maaf, tapi kau begitu seksi hari ini, aku tidak bisa menahannya,” ucap Michio kemudian. Yuko pun hanya tersenyum, kemudian mencium bibir Michio. Kemudian, mereka pun berpelukan.

Di akhir hari, mereka pun pulang ke kota dengan perasaan bahagia.

Based on : AKB48-Manatsu No Sounds Good

Fortune Cookies

Kling, kling

Terdengar suara lonceng kafetaria berbunyi nyaring. Yui yang baru saja memasuki kafetaria itu pun melangkah menuju meja yang berada di pojok kafetaria tersebut, tempat dirinya biasa menyendiri sambil menikmati cake dan minuman favoritnya. Sugar Rush, nama dari kafetaria itu, menyajikan Strawberry Cheesecake1  dan Hot Chocolate2 yang menjadi favorit Yui selama ini.

Yui mengeluarkan buku jurnal berwarna merah maroon dari dalam tas jinjing kesayangannya, dan mengambil balpoin hitam bertuliskan Tokyo University3. Jika banyak orang beranggapan bahwa Yui adalah seorang mahasiswa dari universitas tersebut, maka jawabannya adalah salah. Yui memang pernah belajar di sana, namun dirinya sudah lulus lima tahun yang lalu. Kini, dirinya mengajar sebagai guru seni musik di salah satu sekolah dasar di kota Kyoto. Sebagai seorang guru seni musik, Yui terbiasa menulis lirik-lirik lagu karangannya sendiri di buku jurnal yang sudah menemaninya sejak dibangku sekolah menengah.

Selang beberapa menit, Yui pun melambaikan tangannya, memanggil pelayan kafetaria. Yosuke, salah satu pelayan kafetaria tersebut datang menghampirinya.

“Yui-chan, seperti biasanya bukan?” tanya Yosuke sambil mengerling nakal.

“Iya, Yosuke-chan,” balas Yui dengan senyum manisnya.

Yosuke pun berlari menuju ke dapur, menyiapkan pesanan Yui. Yui membuka buku jurnal dan menulis lirik baru. Tiba-tiba saja, lagu di kafetaria berganti menjadi Fortune Cookie4. Secara tidak sadar, Yui pun berdendang menyikuti irama lagu. Dirinya pun dibawa ke masa lampau, sepuluh tahun yang lalu.


Flashback

Masa orientasi mahasiswa, salah satu hal yang dihindari para mahasiswa baru. Salah satunya Yui. Yui merasa kegiatan ini hanyalah kegiatan konyol yang hanya menguntungkan pihak senior, dan merugikan pihak junior. Namun, Yui tetap mengikuti kegiatan tersebut dengan tenang, tanpa ada rasa takut sedikit pun.

Hingga pada hari puncak kegiatan, terjadi hal yang tidak terduga oleh dirinya. Yui bangun terlambat, dan waktu menunjukkan pukul 07.10, dua puluh menit sebelum acara dimulai. Ditengah kepanikan, Yui berlari menuju kamar mandi, mengenakan seragam, dan berlari menuju halte bus, tanpa menghiraukan teriakan sang ibu yang menyuruhnya untuk sarapan.

Setibanya di halte bus, Yui terus menunggu bus yang lewat, namun dirinya tidak mendapatkan tumpangan hingga waktu menunjukkan pukul 07.20. Dirinya pun berlari meninggalkan halte bus menuju kampus. Yui memang dikenal sebagai pelari yang cepat dan lincah di keluarganya. Selang waktu tujuh menit, Yui sampai di depan gerbang Tokyo University. Dia tersenyum lega, namun Yui tidak menyadari ada sepeda motor yang melaju kencang dibelakangnya. Hingga, ada seseorang yang menarik tangannya dengan cepat dan kedua orang itu jatuh ke trotoar jalan kampus.

Yui yang mendengar rintihan seseorang pun langsung berdiri dan merapikan seragamnya. Orang yang tertindih itu pun berdiri sambil membuang nafas. Yui pun melihat orang tersebut dan mendapati seniornya yang paling galak, Naoya, berdiri di hadapannya.

“Kau bodoh atau bagaimana? Lihat disekitar kamu. Apa kamu tidak mendengar suara motor tadi?” teriak Naoya padanya. Yui yang merasa kesal akibat dibentak, akhirnya membentak senior tersebut.

“Bisa tidak sih kakak tidak teriak padaku? Aku memang tidak mendengarnya, tapi tidak perlu berteriak seperti itu bukan?” teriak Yui pada Naoya. Naoya pun tersenyum licik, kemudian menarik kembali tangan Yui dan menempelkan jidat mereka berdua.

“Hei gadis kecil, kau tahu siapa aku bukan? Aku ini seniormu, jadi jangan macam-macam ya padaku, mengerti?” ucap Naoya, kemudian meninggalkan Yui yang terdiam.

Naoya terus berjalan, tanpa ada beban di bahunya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal baginya. Ia pun berbalik, dan menemukan Yui yang diam terpaku di trotoar jalan kampus.

“Hei Yui!!! Cepat sedikit jika kau tidak ingin dimarahi senior yang lain!” teriaknya membuyarkan lamunan Yui. Yui pun berlari meninggalkannya menuju ke auditorium kampus. Naoyo hanya menggelengkan kepala, kemudian mengikuti Yui dari belakang.

Sejak kejadian itu, Yui dihantui perasaan yang tidak dapat ia jelaskan dengan mudah. Setiap kali bertemu dengan Naoya, dia merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Dan setiap dirinya berbicara dengan Naoya, dia merasa sulit untuk bernafas, seperti kehabisan oksigen. Berada di jurusan yang sama, membuatnya semakin sulit untuk berkata-kata. Ia pun mengambil kesimpulan, ia mencintai Naoya.

Ia ingin mengungkapkan perasaannya, namun tidak semudah yang dipikirkannya. Keadaan yang tidak tepat membuatnya sulit untuk mengutarakan isi hatinya kepada Naoya. Selain itu, Yui tidak percaya diri, karena ia terus membayangkan reaksi apa yang akan dimunculkan Naoya ketika ia mengutarakannya. Sae, teman kuliah Yui, pun menyarankan Yui untuk mengucapkan perasaannya pada Naoya ketika dirinya sudah benar-benar siap, dan harus didasari perasaan yang tulus.

Hari Valentine pun tiba. Yui yang telah memantapkan hati untuk mengutarakan perasaannya, membuat setoples Fortune Cookies5 yang akan ia berikan pada Naoya. Setibanya di kampus, ia pun melangkah menuju loker Naoya, membukanya dan meletakkan toples tersebut, dan menutupnya kembali. Keadaan kampus yang masih sepi membuatnya mudah untuk meletakkan toples tersebut, tanpa ketahuan oleh siapapun. Ia pun berjalan menuju kelasnya. Namun, ketika melewati kelas Naoya, Yui mendapati pangeran hatinya berciuman dengan Ayana, tempat sekelas Naoya. Yui pun berlari menuju taman kampus, dan menumpahkan seluruh perasaannya disana, sendirian ditengah kepagian yang senyap. Dan menyadari bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, Yui berusaha tegar. Ia pun mencoba berhenti mencintai Naoya, dan meneruskan kuliahnya.

End of Flashback

Tak terasa air mata telah mengalir dari pelupuk matanya, membasahi pipinya. Yui menangis. Setelah sepuluh tahun berlalu, Yui harus mengakui bahwa dirinya masih mencintai Naoya, walaupun dia menyadari bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.

Tiba-tiba, Yui mendapati sebuah sapu tangan digenggam oleh seseorang, ditujukan kepadanya. Ia pun mengambil sapu tangan tersebut sembari mengucapkan terima kasih. Setelah menghapus air mata, Yui melihat sapu tangan tersebut dan mendapati ukiran nama Naoya diatasnya. Ia pun melihat pada orang yang memberikan sapu tangan dan mendapati seniornya, Naoya, yang dicintainya sepuluh tahun lalu hingga sekarang, tersenyum kepadanya.

“Yui, sudah lama ya tidak bertemu,” sapanya pada Yui.

Yui pun tersenyum, dan membalas ucapan Naoya. Kini Yui yakin, Naoya emang ditakdirkan untuknya.

Fin

1. Strawberry Cheesecake : Cake dengan cream keju, ditambahkan buah stroberi.

2. Hot Chocolate : Potongan cokelat yang dilelehkan dan diseduh dengan air panas.

3. Tokyo University : Nama universitas di Jepang.

4. Fortune Cookie : Lagu dari AKB48.

5. Fortune Cookies : Cookies dengan kertas tertulis di dalamnya, biasanya tentang keberuntungan.

Would You Be Mine?

Title : Would you be mine?

Author : Audrina Utama – @adrntm

Length : Chaptered

Description : 

SM Entertainment gonna make a new sub-group? What’s the name of this sub-group? And who are in it? Are you curios about the new sub-group?

What will happen if the entertainment paired them up? Are they remained best friend? Or there’s gonna be some felling that came through their journey as a sub-group?

Is there any secret about this sub-group? Why SM Entertainment paired them up into this sub-group? And what’s the meaning or their so called ‘sub-group’ name?

FIND OUT HERE FOR BETTER INFORMATION!

Cast:

Seo Joo Hyun, better known as Seohyun, a member of famous girlband, Girls’ Generation.

Was born in June 28th, 1991

Being paired up in a sub-group with her label mate in SM Entertainment, but who is he/she? And what’s the name of the sub-group?

Xi Luhan, better known as Luhan, a cutie guy from rookie boyband, EXO, and placed in one of the sub-group which is called EXO-M.
Was born in April 21st, 1990

Being paired up in a sub-group with his label mate in SM Entertainment, but who is she/he? And what’s the name of the sub-group?

Always With You

Mungkin hal tidak wajar yang dilakukan wanita bersurai cokelat itu membuat orang di sekelilingnya tidak nyaman. Ya, wanita itu sedang menguntit. Bukan sebagai pencuri, Tiffany Hwang, nama asli wanita itu, hanya memastikan bahwa keadaan pria yang dicintainya sejak tiga tahun silam baik-baik saja. Pria itu tidak sedang sakit parah, tidak juga ketiban kecelakaan yang meraut nyawa, tapi perasaan pria itu dihancurkan oleh seorang wanita, yang tidak akan disangka sama sekali oleh Tiffany akan melakukan hal itu.

Suho Kim, nama pria itu, sedang duduk bersama teman-teman sekelasnya sembari memperhatikan wanita yang dicintainya, walaupun dia tau bahwa bintang seindah dirinya tak akan mungkin ia gapai. Tiffany, yang sebenarnya sahabat Suho, merasa miris melihat keadaan sahabat sekaligus pria yang dicintainya itu. Andai ia bisa merubah haluan hati Suho ke hatinya, tapi ia tahu hal itu tidak akan mungkin terjadi.

Tiffany tidak pernah paham dan tidak pernah menyadari kapan ia jatuh ke dalam lautan pesona pria ini, yang ia tahu ketika ia jatuh, ia bagai ditarik jauh ke dalam dan mungkin sulit untuk kembali keluar. 

“Tiff, aku suka ….,”

“Kamu suka apa? Atau siapa? Kamu kok ngomongnya ga jelas banget,” jawab Tiffany sembari tertawa, menutupi ketakutannya yang ia tak tahu muncul dari mana.

“Aku suka sama Taeyeon, teman sekelasku sendiri Tiff,” jawab Suho.

Tiffany hanya diam ketika mendengar jawaban Suho. Taeyeon Kim, dia tidak  terlalu populer dikalangan siswa di sekolah mereka, tapi yang Tiffany tahu, Taeyeon itu cantik, pintar, dan selalu ranking 1 di penjuru sekolah. 

Tiffany pun merasakan hatinya seperti disayat oleh beribu pisau, tapi apa daya, Tiffany tahu kenyataannya bahwa ia tidak akan mampu menyaingi Taeyeon, dan ia tahu ketika Suho jatuh cinta, maka akan sulit merubah haluan hatinya.

“Kalau kau memang suka, nyatakan saja padanya, tidak susah bukan?” jawab Tiffany kemudian, sembari menampilkan senyuman indahnya.

“Terima kasih Tiffany. Kau memang sahabatku yang terbaik. Aku kembali ke kelas ya,” seru Suho dan meninggalkan Tiffany sendiri di taman.

Tiffany melambaikan tangannya ke arah pria itu. Namun, ketika Suho hilang dari pandangan, seketika itu pula pertahanan Tiffany roboh. Ia menangis.

Tiffany terus memandangi pria itu dari balik pohon, tidak ingin kehadirannya diketahui oleh Suho. Tiba-tiba, pandangannya menyipit ketika menyadari seorang pria datang menghampiri wanita yang sedari tadi sedang dipandang Suho.

Baekhyun Byun, salah satu teman baik Suho. Dia dikabarkan sedang dekat dengan Taeyeon, dan kabar itu mungkin saja benar adanya. Dia berdiri di depan Taeyeon, sambil menyembunyikan setangkai mawar putih di balik punggungnya. Melihat bunga itu membuat Tiffany merasa iba kembali pada sahabatnya itu.

“Tiff….,” seru Suho dari balik pagar rumah Tiffany.

“Apaan sih? Kamu itu ganggu waktu tidur aku aja,” teriak Tiffany dari jendela kamarnya di lantai 2.

“Kamu tahu rumah Taeyeon kan? Ayo temani aku!” sembari mengayunkan setangkai mawar putih di tangan kirinya.

Tiffany hanya tersenyum miris, lalu mengatakan pada Suho bahwa ia akan segera turun. Hatinya sakit, pria yang dicintainya sibuk mengejar wanita lain, yang mungkin saja tidak mencintainya. Namun apa daya, Tiffany tidak berusaha memperjuangkan Suho. Dia sudah menyerah sebelum berperang. Tak ada yang bisa ia lakukan.

Tiffany keluar dari balik pagar dan menemani Suho pergi ke rumah Taeyeon. Rumah Taeyeon hanya berjarak beberapa blok dari rumah Tiffany. Di ujung blok rumah Taeyeon, Tiffany memutuskan untuk berhenti dan meminta Suho untuk meneruskan sendiri perjalanannya. Tiffany hanya memberi tahu warna rumah Taeyeon, tak lebih dan tak kurang.

Tiffany menatap langkah tegap pria itu. Dia hanya bisa menahan rasa pedih di hatinya sembari menangis di bawah pohon tempatnya berdiri. Andai Suho memberika bunga itu padanya, bukan Taeyeon. Walaupun pada akhirnya Taeyeon menolak bunga pemberian Suho, tapi ia tahu hati Suho tetap untuk Taeyeon, bukan untuk wanita lain, bukan juga untuk Tiffany.

Taeyeon merasa ada yang menghampirinya. Ia menutup buka roman klasik yang sedang dibacanya dan menatap seseorang yang ada di depannya. Taeyeon kemudian tersenyum, mendapati Baekhyun yang sedang berdiri di depannya. Baekhyun mengeluarkan senyumannya, dan memberikan bunga suci tersebut kepada Taeyeon. Taeyeon yang merasa sangat senang, lalu memeluk Baekhyun tanpa menyadari pandangan orang-orang di sekitar mereka, tanpa menyadari kehadiran Suho yang memandang mereka sejak tadi.

Lalu, Tiffany melihat ketempat Suho tadi duduk, namun ia tak menemukan sosoknya. Tiffany memandang sekitar, dan menemukan Suho sedang menaiki anak tangga, menuju spot favoritnya di sekolah, rooftop sekolah. 

Tiffany pun berlari mengejar pria itu. Tiffany tahu pria itu sedang terluka saat ini, dan memang hanya Tiffany yang bisa menghiburnya. Tiffany tertawa miris di dalam hatinya, seharusnya dia bisa merebut hati Suho, tidak hanya sekadar menghiburnya ketika pria itu sedang jatuh dan terluka. Tapi, untuk saat ini, Tiffany tahu hal iu tak akan mungkin terjadi.

Tapi, yang Tiffany akan terus lakukan, ia akan selalu ada untuk Suho, pria yang dicintainya, dalam suka maupun duka, walaupun Suho tidak mencintainya untuk saat ini.


Okay, actually I’ve posted this before on my blogger. And since I’m focusing my blogger for real-life journey, I decided to move all the fictions on my blogger to wordpress. Thank you for your kind attention 🙂

New Romantic

Well, the keyword for this very first post is ‘NEW’, so don’t mind the word romantic. Okay, so this is the first time I

m using wordpress for blogging. I use blogger before trying to use this, but I still working on blogger. If you want to visit, just open at audrina-utama.blogspot.com 🙂

For wordpress, I’m thinking to use this page for my fan fiction stories. Maybe I’ll post oneshots, it can be my real own idea or if you want to request for a oneshot which is the characters are biases in K-World, J-World etc., you can ask me here, or you can contact me on email audrinau@gmail.com

Enjoy 😉