Fortune Cookies

Kling, kling

Terdengar suara lonceng kafetaria berbunyi nyaring. Yui yang baru saja memasuki kafetaria itu pun melangkah menuju meja yang berada di pojok kafetaria tersebut, tempat dirinya biasa menyendiri sambil menikmati cake dan minuman favoritnya. Sugar Rush, nama dari kafetaria itu, menyajikan Strawberry Cheesecake1  dan Hot Chocolate2 yang menjadi favorit Yui selama ini.

Yui mengeluarkan buku jurnal berwarna merah maroon dari dalam tas jinjing kesayangannya, dan mengambil balpoin hitam bertuliskan Tokyo University3. Jika banyak orang beranggapan bahwa Yui adalah seorang mahasiswa dari universitas tersebut, maka jawabannya adalah salah. Yui memang pernah belajar di sana, namun dirinya sudah lulus lima tahun yang lalu. Kini, dirinya mengajar sebagai guru seni musik di salah satu sekolah dasar di kota Kyoto. Sebagai seorang guru seni musik, Yui terbiasa menulis lirik-lirik lagu karangannya sendiri di buku jurnal yang sudah menemaninya sejak dibangku sekolah menengah.

Selang beberapa menit, Yui pun melambaikan tangannya, memanggil pelayan kafetaria. Yosuke, salah satu pelayan kafetaria tersebut datang menghampirinya.

“Yui-chan, seperti biasanya bukan?” tanya Yosuke sambil mengerling nakal.

“Iya, Yosuke-chan,” balas Yui dengan senyum manisnya.

Yosuke pun berlari menuju ke dapur, menyiapkan pesanan Yui. Yui membuka buku jurnal dan menulis lirik baru. Tiba-tiba saja, lagu di kafetaria berganti menjadi Fortune Cookie4. Secara tidak sadar, Yui pun berdendang menyikuti irama lagu. Dirinya pun dibawa ke masa lampau, sepuluh tahun yang lalu.


Flashback

Masa orientasi mahasiswa, salah satu hal yang dihindari para mahasiswa baru. Salah satunya Yui. Yui merasa kegiatan ini hanyalah kegiatan konyol yang hanya menguntungkan pihak senior, dan merugikan pihak junior. Namun, Yui tetap mengikuti kegiatan tersebut dengan tenang, tanpa ada rasa takut sedikit pun.

Hingga pada hari puncak kegiatan, terjadi hal yang tidak terduga oleh dirinya. Yui bangun terlambat, dan waktu menunjukkan pukul 07.10, dua puluh menit sebelum acara dimulai. Ditengah kepanikan, Yui berlari menuju kamar mandi, mengenakan seragam, dan berlari menuju halte bus, tanpa menghiraukan teriakan sang ibu yang menyuruhnya untuk sarapan.

Setibanya di halte bus, Yui terus menunggu bus yang lewat, namun dirinya tidak mendapatkan tumpangan hingga waktu menunjukkan pukul 07.20. Dirinya pun berlari meninggalkan halte bus menuju kampus. Yui memang dikenal sebagai pelari yang cepat dan lincah di keluarganya. Selang waktu tujuh menit, Yui sampai di depan gerbang Tokyo University. Dia tersenyum lega, namun Yui tidak menyadari ada sepeda motor yang melaju kencang dibelakangnya. Hingga, ada seseorang yang menarik tangannya dengan cepat dan kedua orang itu jatuh ke trotoar jalan kampus.

Yui yang mendengar rintihan seseorang pun langsung berdiri dan merapikan seragamnya. Orang yang tertindih itu pun berdiri sambil membuang nafas. Yui pun melihat orang tersebut dan mendapati seniornya yang paling galak, Naoya, berdiri di hadapannya.

“Kau bodoh atau bagaimana? Lihat disekitar kamu. Apa kamu tidak mendengar suara motor tadi?” teriak Naoya padanya. Yui yang merasa kesal akibat dibentak, akhirnya membentak senior tersebut.

“Bisa tidak sih kakak tidak teriak padaku? Aku memang tidak mendengarnya, tapi tidak perlu berteriak seperti itu bukan?” teriak Yui pada Naoya. Naoya pun tersenyum licik, kemudian menarik kembali tangan Yui dan menempelkan jidat mereka berdua.

“Hei gadis kecil, kau tahu siapa aku bukan? Aku ini seniormu, jadi jangan macam-macam ya padaku, mengerti?” ucap Naoya, kemudian meninggalkan Yui yang terdiam.

Naoya terus berjalan, tanpa ada beban di bahunya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal baginya. Ia pun berbalik, dan menemukan Yui yang diam terpaku di trotoar jalan kampus.

“Hei Yui!!! Cepat sedikit jika kau tidak ingin dimarahi senior yang lain!” teriaknya membuyarkan lamunan Yui. Yui pun berlari meninggalkannya menuju ke auditorium kampus. Naoyo hanya menggelengkan kepala, kemudian mengikuti Yui dari belakang.

Sejak kejadian itu, Yui dihantui perasaan yang tidak dapat ia jelaskan dengan mudah. Setiap kali bertemu dengan Naoya, dia merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Dan setiap dirinya berbicara dengan Naoya, dia merasa sulit untuk bernafas, seperti kehabisan oksigen. Berada di jurusan yang sama, membuatnya semakin sulit untuk berkata-kata. Ia pun mengambil kesimpulan, ia mencintai Naoya.

Ia ingin mengungkapkan perasaannya, namun tidak semudah yang dipikirkannya. Keadaan yang tidak tepat membuatnya sulit untuk mengutarakan isi hatinya kepada Naoya. Selain itu, Yui tidak percaya diri, karena ia terus membayangkan reaksi apa yang akan dimunculkan Naoya ketika ia mengutarakannya. Sae, teman kuliah Yui, pun menyarankan Yui untuk mengucapkan perasaannya pada Naoya ketika dirinya sudah benar-benar siap, dan harus didasari perasaan yang tulus.

Hari Valentine pun tiba. Yui yang telah memantapkan hati untuk mengutarakan perasaannya, membuat setoples Fortune Cookies5 yang akan ia berikan pada Naoya. Setibanya di kampus, ia pun melangkah menuju loker Naoya, membukanya dan meletakkan toples tersebut, dan menutupnya kembali. Keadaan kampus yang masih sepi membuatnya mudah untuk meletakkan toples tersebut, tanpa ketahuan oleh siapapun. Ia pun berjalan menuju kelasnya. Namun, ketika melewati kelas Naoya, Yui mendapati pangeran hatinya berciuman dengan Ayana, tempat sekelas Naoya. Yui pun berlari menuju taman kampus, dan menumpahkan seluruh perasaannya disana, sendirian ditengah kepagian yang senyap. Dan menyadari bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, Yui berusaha tegar. Ia pun mencoba berhenti mencintai Naoya, dan meneruskan kuliahnya.

End of Flashback

Tak terasa air mata telah mengalir dari pelupuk matanya, membasahi pipinya. Yui menangis. Setelah sepuluh tahun berlalu, Yui harus mengakui bahwa dirinya masih mencintai Naoya, walaupun dia menyadari bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.

Tiba-tiba, Yui mendapati sebuah sapu tangan digenggam oleh seseorang, ditujukan kepadanya. Ia pun mengambil sapu tangan tersebut sembari mengucapkan terima kasih. Setelah menghapus air mata, Yui melihat sapu tangan tersebut dan mendapati ukiran nama Naoya diatasnya. Ia pun melihat pada orang yang memberikan sapu tangan dan mendapati seniornya, Naoya, yang dicintainya sepuluh tahun lalu hingga sekarang, tersenyum kepadanya.

“Yui, sudah lama ya tidak bertemu,” sapanya pada Yui.

Yui pun tersenyum, dan membalas ucapan Naoya. Kini Yui yakin, Naoya emang ditakdirkan untuknya.

Fin

1. Strawberry Cheesecake : Cake dengan cream keju, ditambahkan buah stroberi.

2. Hot Chocolate : Potongan cokelat yang dilelehkan dan diseduh dengan air panas.

3. Tokyo University : Nama universitas di Jepang.

4. Fortune Cookie : Lagu dari AKB48.

5. Fortune Cookies : Cookies dengan kertas tertulis di dalamnya, biasanya tentang keberuntungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s